Kembalinya ‘Obama’ ke Eropa Timur ketika ‘Putin’ beragresi di Suriah

cm00tiexyaamynt
The President of Republic of Poland welcomes the Warsaw Summit Experts’ Forum 20016 (The sidelines of Warsaw NATO Summit 2016)

This article is in Bahasa Indonesia. English words would be published, if some lazy time comes 🙂 

Kebijakan-kebijakan luar negeri dari dua negara adi kuasa di dunia, Amerika Serikat dan Rusia selalu menjadi salah satu patokan isu-isu global dan mempengaruhi padangan politik internasional. Pada tahun 2012 Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Presiden Obama menarik hampir seluruh anggota militernya dari Eropa. Namun, setelah memperhitungkan pergerakan Rusia di Eropa Timur, seperti pencaplokan Krimea, Ukraina yang disimpulkan sebagai sebuah ancaman dan akan menimbulkan distabilitas di Eropa yang mana hampir semua negara-negara di Eropa adalah sekutu AS, terutama dalam NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) merubah keputusan tersebut, sejak setahun belakangan Amerika kembali menempatkan kekuatan militernya di Latvia, Estonia dan Polandia, termasuk tank tempur terbaru dan brigade infanteri penuhnya untuk mengantispasi keagresian Rusia di Eropa Timur nantinya secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan anggaran dari kebijakan militer terbaru Amerika di Eropa Timur ini empat kali lipat besarnya dari kebijakan militer sebelumnya, yang mana dapat dikatakan sebagai kenaikan pengeluaran anggaran terbesar sejak perang dingin berakhir. Diperkirakan dengan penempatan kembali dan penambahan tentara Amerika Serikat akan memperkuat kekuatan tentara aktif NATO hingga 82.000 yang mana akan terkonsentrasi pada pertahanan timur Eropa yang berbatasan langsung dengan Rusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh mantan penjabat tinggi Pentagon, Evelyn Farkas, “Kebijakan militer terbaru Amerika Serikat ini adalah kesepatakan yang sangat besar antara Amerika dengan sekutunya dan akan menjadi pertimbangan yang sangat besar bagi Rusia”

            Rusia secara langsung mengecam tindakan administrasi Obama ini, karena akan meningkatkan ketegangan di regional secara signifikan dan membahayakan stabitlitas di Eropa. “Langkah-langkah AS dan NATO ini merugikan stabilitas keamanan Eropa.” Sebagaimana yang diungakapan Kedutaan Besar Rusia di Washington, A.S ”Rusia tidak pernah meragukan kemampuannya dalam kondisi apapun untuk mempertahankan warganya dan kepentingan keamanan nasional.”  Walaupun pengumuman eskalasi militer AS ini sangat berarti terutama dalam hal meningkatkan dan memperkuat rasa percaya diri NATO di timur Eropa, tapi waktu pengumuman ini mengejutkan banyak pengamat politik internasional. Dimana Rusia saat ini disibukan dengan agresi militernya di Suriah untuk mendukung pasukan pro-pemerintah Suriah, ketika konfrontasi Rusia terhadap Ukraina mulai mengalami penurunan tensi yang cukup signifikan sejak Agusutus 2015, menurut PBB.

            Disisi lain, Moskow juga menganggap keputusan AS ini melanggar perjanjian antara NATO-Rusia, yang mana isi dari perjanjian tersebut adalah kedua belah pihak untuk tidak menempatkan sejumlah besar pasukannya di sepanjang perbatasan yang saling berhadapan antara negara anggota NATO dan Rusia. Tapi NATO merespon dengan santai bahwa kebijakan baru penempatan jumlah personel militer yang besar di Estonia, Lituania, Polandia tidaklah penempatan secara permanen. Namun Rusia pastinya tidak menghiraukan pernyataan tersebut. Pergerakan A.S terhadap keamanan Eropa tidak dapat dipatahkan oleh Rusia secara langsung dikarenakan posisi Rusia dalam komunitas internasional telah dilemahkan oleh aneksasi Krimea dan konfrontasi perbatasan dengan Ukraina dalam beberapa tahun belakangan.

            Dalam kajian hubungan internasional kebijakan baru dari A.S ini mempunyai maksud dan tujuan yang sangat penting terhadap perlombaan antara A.S dan Rusia. Kebijakan A.S dalam penempatan brigadir di perbatasan antara negara NATO dan Rusia dapat dipandang sebagai bagian dari respon isu kekhawatiran keamanan yang terus-menerus terjadi di Eropa Timur dan juga kebijakan luar negeri dan pertahanan Presiden Putin yang secara terang-terangan dan tanpa kompromi. Namun disisi lain pastinya terdapat tujuan lain dari eskalasi A.S ini

            Pertama, kebijakan ini mungkin dimaksudkan untuk meningkatkan kepercayaan dari negara-negara Eropa Timur yang merasa kurang percaya terhadap kekuatan nasionalnya, rentan terhadap  menghadapi taktik tekanan Rusia dibawah pimpinan Presiden Putin. Sebagian besar negara-negara di Eropa TImur adalah bagian dari NATO, seperti Hungaria, Rumania, Polandia, termasuk negara-negara Baltik dengan kekuatan militer yang lemah seperti Lithuania, Latvia, dan Estonia. Yang mana sebagian besar dari negara-negara tersebut sebelumnya mengkritik Obama akan sifat naifnya terhadap niat ekspansif dari Putin dan menganggap Obama tidak bertindak cepat untuk mempertahankan NATO.

            Seperti yang diungkapkan oleh ahli keamanan Polandia, Lukasz Kiser di New York Times; ”Akhirnya mereka (A.S) menyadari bahwa tidak adanya kepentingan A.S yang berambisi di Eropa Timur memberikan dampak untuk Amerika Serikat sendiri.” Lukasz juga menambahkan bahwa keputusan A.S ini akan membantu pengaruh A.S sendiri di Eropa maupun dunia dimana ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah, dan dengan cepatnya penyebaran kekuatan baru DAESH hingga ke Libya.

            Beberapa ahli teori “realist” dalam hubugan internasional telah mengingatkan bahwa terlepas dari Polandia, memperluas penempatan kekuatan NATO yang berbatasan lansung dengan Rusia dipastikan akan memprovokasi konfrontasi yang tidak perlu, namun penempatan kekuatan militer baru A.S ini jelas dimaksudkan untuk menyampaikan pesan yang kuat kepada seluruh sekutu NATO bahwa Rusia bisa menjadi sebuah ancaman yang serius bagi mereka, disamping perkembangan DAESH dan munculnya kekuatan baru dari China.

            Meskipun penumpukan masalah baru didalam lingkaran negara-negara anggota NATO, seperti Kanada di bawah pimpinan baru mereka, Perdana Menteri Justin Trudeau yang memastikan akan menarik semua jet tempur mereka dari operasi militer NATO di timur tengah, pemerintah konservatif baru Polandia yang menginginkan dan menegaskan bahwa perlunya keberadaan militer NATO dengan jumlah besar di Eropa Tengah sampai dengan kemelut tahun pemilu di Amerika Serikat sendiri. Namun, situasi saat ini masih jauh dari yang dapat disimpulkan sebgai Perang Dingin Kedua, dimana jutaan pasukan bersenjata (baik pertunjukan kekuatan senjata nuklir) dari blok barat-timur berhadapan secara lansung dan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kestabilitasan keamanan dunia.

            Namun, dalam keadaan keamanan dunia sekarang, sebuah krisis dalam bergerak atau meletus lebih cepat daripada yang diperkirakan. Bahkan gejolak-gejolak di Eropa Timur dapat meningkat menjadi sebuah konflik atau krisis regional dalam beberapa jam. Ini semua adalah salah satu kekhawatiran umum di lingkup Kementerian Luar Negeri hari ini, dimana pergolakan global telah melampaui batas kapasitas dari sebuah diplomasi. Harus ada kebijakan dan kerjasama yang jelas dan mendalam untuk menghindari krisis baru tersebut. NATO dan Moskow seharusnya membuka kembali pembicaraan dan penyelesaian secara diplomasi sesegera mungkin, tentang bagaimana mengurangi ketegangan di masa mendatang. Sulit untuk memberi jawaban yang optimis untuk saat ini, mengingat ketidakpastian atas niat Rusia di bawah pimpinan Presiden Putin dan gejolak keadaan domestik Amerika Serikat terhadap pemilu presidennya tahun ini.

            Bagaimanapun juga, sebaiknya kita berharap suara kenegarawanan setidaknya mempunyai beberapa peran untuk bermain, sebelum eskalasi pergerakan pasukan mengambil momentum mereka sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s