Perusahaan Tempurung, Uang Gelap dan Pendanaan Terorisme

cuci uang
Gambar dari: nusakini.com

Salah satu faktor terpenting dalam jaringan teroris adalah finansial dan perusahaan tempurung yang memfasilitasi dan mempermudah putaran finansial. Sebagaimana salah satu musuh dunia saat ini, Daesh atau ISIS. Pendapatan Daesh sekitar 1 – 2 juta dolar Amerika per hari dari produksi minyak mentah, sekitar 100 juta dolar Amerika dari uang tebusan penculikan  dan menarik “pajak” dari 6 juta orang dibawah kekuasaanya.

Contoh lain kenapa deposit uang dan putaran uang gelap sangat penting bagi kelompok teroris, seperti Al Qaeda memerlukan 30 – 50 juta dolar Amerika setiap tahunnya untuk biaya operasi mereka. Ini dapat dilihat biaya yang dikeluarkan oleh Al Qaeda dalam serangan gedung WTC Amerika, 11 September 2001. Para ahli berpendapat bahwa serangan tersebut setidaknya membutuhkan 500 ribu dolar Amerika. Disisi lain, belakangan ini serangan teroris di Eropa dapat dikatakan jumlahnya lebih kecil, yang membuat para ahli anti money laundering dan terrorism financing menganalisa lebih dalam. Seperti serangan teroris di Paris secara finasial membutuhkan mereka sekitar 15 ribu dolar Amerika, serangan bom London yang mana sekitar 10 ribu dolar Amerika. Pada dasarnya, dari beberapa contoh tersebut seberapa besar serangan dari kelompok teroris, finansial terorisme dapat sangat mudah diprakterkan, terutama melalui perusahaan tempurung. Sebaliknya, Amerika Serikat sudah menghabiskan sekitar 1,6 triliun dolar Amerika untuk operasi militer besar mereka di luar negeri sejak serangan 11 September dan sekitar 9 juta dolar Amerika per hari untuk memberantas Daesh di Timur Tengah.

Dari fakta-fakta tersebut, kita mungkin hanya bisa geleng kepala. Untuk melawan operasi kelompok teroris pada saat ini mungkin sebaiknya memutuskan rantai finansialnya. Jika kita semua ingin melawan teroris secara efektif, memberantas dan memutuskan rantai finansial kelompok teroris, terutama di organisasi finansial sektor swasta seperti perusahaan tempurung. Pihak berkepentingan seharusnya bisa mengedalikan sistem finansialya dan menjauhi sistem tersebut dari jangkauan kelompok teroris. Fokus kepada regulasi finansial adalah sebuah langkah awal yang sangat dibutuhkan untuk menyudutkan kelompok teroris. Belajar dari Panama Papers, yang mana sangat mudahnya bagi kelompok tertentu mendanai teroris melalui perusahan-perusahan tempurung, termasuk perusahan dari Amerika Serikat sendiri. Dengan kemudahaan tersebut, banyak individual-individual memutuskan membentuk sebuah perusahaan tempurung tersebut untuk mengamankan asset dari sistem perpajakan atau pencucian uang. Disamping itu, satu hal yang sangat mengkhawatirkan adalah kelompok teroris dengan mudah menyamarkan identitas mereka di perusahaan tempurung dan membuat mereka jauh dari jangkauan penegakan hukum. Walaupun kelompok teroris tidak mempunyai mobilisasi yang luas, akan tetapi operasi dari perusahan tempurung dapat membuat mereka leluasan dalam hal finansial. Pembentukan perusahan tempurung di negara-negara kecil di wilayah Karibian, Oseania dan negara-negara kecil lainnya tidak memerlukan kehadiran fisik dari investor. Sederhananya, investor atau kelompok tertentu bisa membuat perusahaan dalam hitungan menit tanpa proses analisa, investigasi dan verifikasi yang akurat. Sebagai contoh yang sudah terjadi, kasus seorang agen senjata dari Rusia, Viktor Bout. Viktor menggunakan perusahaan tempurung tanpa dokumen resmi untuk menjual dan mendistribusikan senajata-senjatanya, seperti tank dan RPG (Rudal Bahu) kepada kelompok-kelompok teroris.

Pada dasarnya, hukum pemberantasan cuci uang dan pendanaan teroris sudah banyak disahkan di seluruh negara di dunia. Sebagai patokan utama, Amerika Serikat yang mana mensahkan “Patriot Act” setelah serangan 11 September. Dimana otoritas Amerika tertentu dengan sangat leluasa memantau ataupun mengaudit lembaga-lembaga keuangan Amerika, seperti menganalisa data-data nasabah dari bank atau perusahaan keuangannya untuk memberantas kegiatan cuci uang ataupun yang berkaitan dengan tindakan terorisme. Bahkan Amerika Serikat mengkampanyekan hal ini kepada negara-negara sekutu, dan juga menggandeng Perserikatan Bangsa-Bangsa serta negara-negara lain untuk menciptakan program pelacakan keuangan ini. Tapi sangat disayangkan, masih lazimnya perusahaan-perusahan keuangan dari Amerika Serikat sendiri melakukan pratek-pratek ilegal dengan dalil kurangnya sumber daya mereka untuk menjalankan program tersebut, disamping itu kegiatan ilegal terkadang lebih cepat meningkatkan pendapatan mereka.

Negara adi daya sendiri cukup kewalahan untuk menjalankan program pemberantasan cuci uang dan pendanaan terorisnya. Absennya sinkronisasi antara otoritas dan aktor-aktor di lembaga finansial, termasuk kesadaran publik adalah hal yang memungkinkan masih gampangnya aliran uang gelap terintegrasi dengan pasar, begitu juga dengan bisnis di perusahaan tempurung.

Tanda tanya besar, apakah pennggunaan kekuatan militer cukup untuk memutuskan masa depan dari terorisme? Seperti Amerika Serikat menggunakan angkatan militer dan agen-agen rahasianya atau di Indonesia menghandalkan kekuatan Densus 88 dan hasil investigasi dari otoritas tertentu.

Di Indonesia, kontrol terhadap bank ataupun jasa keuangan dalam hal pemberantasan cuci uang dan pendanaan teroris masih sangat dini. Bulan Oktober 2017, hanya 10 perusahaan jasa keuangan Indonesia yang sudah siap untuk menganalisa data dan alur uang dari nasabah. Semoga ketersediaan data tersebut tindak digunakan untuk kegiatan marketing ya 🙂

Sebagaimana yang banyak dikatakan oleh orang banyak “Terorisme adalah sebuah bisnis yang cukup besar.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s