Youth Matters! Kekuatan Pemuda

bangun-bisnis-cara-gue-7-638
Kutipan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno

Hari ini hampir 40 persen penduduk dunia disi oleh usia dibawah 40 tahun. Begitupula Indonesia, yang mana populasinya didominasi oleh usia muda dan produktif. Pertanyaan yang mulai sering didengar dilingkungan adalah apakah sudah saatnya pemuda menjadi sebuah indikator besar dalam keputusan-keputusan yang dibentuk oleh pemerintah lokal ataupun global? Atau apakah sudah saatnya pemuda menjadi salah satu pemimpin? Jawabannya, mungkin! Ada beberapa peristiwa dan isu di dunia yang mana pemuda berhasil menciptakan sebuah perubahan dalam hal sosial dan politik. Pribahasa lama “Yang muda belum boleh berbicara” seharusnya sudah tidak ada lagi dalam percakapan sehari-hari kalau dilihat dari peristiwa-peristiwa tersebut.

Mari melihat kebelakang, apa yang telah terjadi dalam satu dekade di negara-negara Maghrib atau Afrika Utara beberapa tahun lalu, Tunisia, Mesir, Yordania dan bahkan Suriah. Apakah pemberontakan “Arab Spring” yang mana rata-rata hampir seluruh pemuda Tunisia bergerak untuk menurunkan pemerintahannya pada saat itu adalah titik awal dari kekuatan pemuda di dunia. Peristiwa tersebut dapat dikatan sebagai momentum kebangkitan suara kaum muda, gerakan ini telah menjadi inspirasi di negara-negara Arab lainnya. Tidak hanya disitu, apakah hal ini juga menyebar di seluruh Eropa? Jawabannya mungkin! Ribuan demonstran muda baru- baru ini turun ke jalan di Slovakia untuk pawai anti-korupsi, tidak hanya di Slovakia, tapi juga terjadi di Rumania dimana berakhir dengan pengunduran diri Perdana Menterinya, dan juga di Hungaria dimana kebebasan dalam akademik berada disebuah pusaran politik di negara tersebut yang mendorong pemuda Hungaria untuk turun kejalanan. Kita lihat ke Timur Eropa, gerakan melawan korupsi juga telah bergolak Rusia dimana pemuda mempercayai bahwa presiden Putin dalam lingkaran korupsi yang sangat besar.

Beberapa gerakan gerakan pemuda tersebut didorong oleh beberapa faktor, seperti; korupsi, tumbuhnya rasa nasionalisme dan juga populisme. Dari faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa pemuda sebagai generasi baru sudah menemukan tempatnya dalam sistem kepemerintahan ataupun masyarakat sipil. Sebagaimana kutipan dalama sebuah artikel di New York Post menyebutkan; “Bahwa korupsi sebagai masalah yang sukar untuk dihilangkan, terutama dari negara-negara Eropa Tengah dan Timur bekas dari kekuasan komunis telah membuat sebuah gerakan di usia muda. Hal itu diperburuk oleh dengan gaya otoriter pemimipin mereka yang mencoba untuk mempengaruhi kebangkitan nasionalisme dan populisme untuk memantapkan kekuatan dan kekuasaan mereka yang menjadi boomerang, dimana usia muda lebih sadar akan bentuk sistem-sistem yang mereka hadapi”

Bagaimanapun juga, isu korupsi, koalisi ataupun nepotisme bukanlah satu-satunya target demonstrasi dari tren gerakan gerakan kepemudaan global saat ini. Seperti majalah Times menyebutkan “meskipun bisa mengoyangkan semua pemimpin yang mengkonsolidasikan kekuasaan untuk melemahkan kekuatan masyarakat sipil, supremasi hukum, dan kebebasan pers. Protes baru-baru juga dapat diperhitungkan karena pertumbuhan usia muda dan berpartisipasinya. Dapat dilihat dari masalah yang sama telah memicu protes di bagian lain dunia, seperti Venezuela dan Brazil”

Tidak hanya di negara Arab dan Eropa ataupun Latin Amerika. Gelombang “Youth Power” juga terjadi di Amerika Serikat, awal tahun 2017 organisasi organisasi kepemudaan A.S membentuk protes skala besar, seperti Woman March , Science March , Tax Day, May Day, dan Perubahan Iklim. Dari hal tersebut, upaya perlawanan masyarakat AS telah muncul menjadi lebih multi-generasi. Yang mana biasanya sebuah tindakan protes ini jarang ada dilingkunganperguruantinggiA.S,tapi karenaketidaksesuaiankaumakademikmudaataupun tua dengan sipemangku kebijakan yang telah memunculkan pergerakan dan pendorongan untuk ambil bagian dalam “resistance”, dan juga kita jangan lupakan gerakan seperti #BlackLivesMatter yang didorong oleh energi-energi muda AS.

Hal lain yang mendorong munculnya gelombang gerakan-gerakan kepemudaan yang lebih besar adalah karena menurunnya lapangan pekerjaan setelah resesi global sejak tahun 2008 dan akses sosial media semakin hari semakin mudah. Beberapa ahli ilmu sosiologi dan sosial berpendapat bahwa tren dari gerakan-gerakan kepemudaan terhadap pemerintah kemungkinan akan meningkat jika pemerintah terus melupakan tentang keberadaan kekuatan dari pemuda-pemudinya. Ini semua bukan hanya dipicu oleh Arab Spring movement atau perubahan tren di A.S ataupun negara Barat, tapi akan kepedulian dan peningkatan pengetahuan kaum muda terhdap isu-isu dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat lihat dimana gerakan-gerakan terhadap perubahan iklim juga mendorong pemuda untuk bergerak yang mana mereka khawatir akan kelansungan masa depan mereka. Tidak dilupakan pula bahwa dalam sejarah Indonesia, kaum muda juga sangat mempengaruhi Kemerdekaan Indonesia dan pembentukan Bahasa Indonesia.

Sebagai tambahan, menurut dari lembaga survey independen di Eropa mengungkapkan bahwa lebih dari setengah usia 18 sampai 35 tahun akan dan siap berpartisipasi dalam pemberontakan yang lebih besar terhadap ketidakadilan dan ketidakpastian dari pemerintah, walaupun itu harus terjadi besok, atau bulan depan.

Sebagai kaum muda, masihkah kita tidak percaya akan suara dan kekuatan kita untuk sebuah perubahan yang lebih baik?

Advertisements